Senin, 18 Mei 2009

kerajaan sriwijaya

  1. Sumber Sejarah

Sumber-sumber sejarah yang mendukung tentang keberadaan Kerajaan Sriwijaya berasal dari berita asing dan prasasti-prasasti.

  1. Sumber Asing
    • Sumber Cina

Kunjungan I-sting, seorang peziarah Budha dari China pertama adalah tahun 671 M. Dalam catatannya disebutkan bahwa, saat itu terdapat lebih dari seribu orang pendeta Budha di Sriwijaya. Aturan dan upacara para pendeta Budha tersebut sama dengan aturan dan upacara yang dilakukan oleh para pendeta Budha di India. I-tsing tinggal selama 6 bulan di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sansekerta, setelah itu, baru ia berangkat ke Nalanda, India. Setelah lama belajar di Nalanda, tahun 685 I-tsing kembali ke Sriwijaya dan tinggal selama beberapa tahun untuk menerjemahkan teks-teks Budha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina.

Catatan Cina yang lain menyebutkan tentang utusan Sriwijaya yang datang secara rutin ke Cina, yang terakhir adalah tahun 988 M

    • Sumber Arab

Arab, Sriwijaya disebut Sribuza. Mas‘udi, seorang sejarawan Arab klasik menulis catatan tentang Sriwijaya pada tahun 955 M. Dalam catatan itu, digambarkan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan besar, dengan tentara yang sangat banyak. Hasil bumi Sriwijaya adalah kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, kayu cendana, pala, kardamunggu, gambir dan beberapa hasil bumi lainya.

    • Sumber India

Kerajaan Sriwijaya pernah menjalin hubungan dengan raja-raja dari kerajaan yang ada di India seperti dengan Kerajaan Nalanda, dan Kerajaan Chola. Dengan Kerajaan Nalanda disebutkan bahwa Raja Sriwijaya mendirikan sebuah prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Nalanda

  1. Sumber Lokal atau Dalam Negeri

Sumber dalam negeri berasal dari prasasti-prasasti yang dibuat oleh raja-raja dari Kerajaan Sriwijaya. Prasasti itu antara lain sebagai berikut.

    • Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti ini merupakan yang paling tua, bertarikh 604 S atau 682 Masehi, menceritakan tentang kisah perjalanan suci Dapunta Hyang dari Minanga Tamwan dengan perahu, bersama dua laksa (20.000) tentara dan 200 peti perbekalan, serta 1.312 tentara yang berjalan kaki. Ia datang di Matayap dan akhirnya membangun kota yangbernama Sriwijaya,setelah menaklukkan beberapa daerah.

    • Prasasti Talangtuo

Prasasti berangka tahun 606 S itu menyebutkan tentang pembuatan Taman Srikesetra atas perintah Raja Dapunta Hyang Sri Jayanaga untuk kemakmuran semua makhluk. Doa dan harapan dalam prasasti itu menunjukkan tentang sifat-sifat agama Budha.

    • Prasasti Telaga Batu.

Prasasti ini Karena ditemukan di sekitar Palembang pada tahun 1918 M. Berbentuk batu lempeng mendekati segi lima, di atasnya ada tujuh kepala ular kobra, dengan sebentuk mangkuk kecil dengan cerat (mulut kecil tempat keluar air) di bawahnya. Menurut para arkeolog, prasasti ini digunakan untuk pelaksanaan upacara sumpah kesetiaan dan kepatuhan para calon pejabat. Atau berisi tentang kutukan-kutukan kepada pelaku kejahatn dan kepada yang tidak tunduk pada raja. Dalam prosesi itu, pejabat yang disumpah meminum air yang dialirkan ke batu dan keluar melalui cerat tersebut. Sebagai sarana untuk upacara persumpahan, prasasti seperti itu biasanya ditempatkan di pusat kerajaan., maka diduga kuat Palembang merupakan pusat Kerajaan

    • Prasasti Kota Kapur

Prasasti berangka tahun 608 S itu menyebutkan permintaan kepada Dewa yang menjaga kerajaan Sriwijaya untuk menghukum orang yang berniat jahatdan mendurhaka terhadap kekuasaan Sriwijaya. Selain itu untuk menjamin keselamatan bagi mereka yang taat. Juga isebutkan bahwa bhumi jawa tidak mau tundu pada Sriwijaya.

    • Prasasti Karang Berahi

Prasasti berangka tahun 608 S itu ditemukan di daerah pedalaman Jambi, yang menunjukan penguasaan Sriwijaya atas daerah itu. Isinya mirip dengan prasasti Kota Kapur.

    • Prasasti Nalanda

Prasasti itu menyebutkan Raja Balaputra Dewa sebagai Raja terakhir dari Dinasti Syailendra yang terusir dari Jawa Tengah akibat kekalahannya melawan Kerajaan Mataram dari Dinasti Sanjaya. Dalam prasasti itu, Balaputra Dewa meminta kepada Raja Nalanda agar mengakui haknya atas Kerajaan Syailendra. Di samping itu, prasasti ini juga menyebutkan bahwa Raja Dewa Paladewa berkenan membebaskan 5 buah desa dari pajak untuk membiayai para mahasiswa Sriwijaya yang belajar di Nalanda. Serta membangun sebuah Wihara di Nalanda.

Masih banyak lagi prasasti yang menguatkan tentang selukbeluk Kerajaan Sriwijaya. Prasasti-prasasti dari Kerajaan Sriwijaya itu sebagian besar menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno

.

  1. Sejarah dan Lokasi

Pengetahuan mengenai sejarah Sriwijaya baru lahir pada permulaan abad ke-20 M, ketika George Coedes menulis karangannya berjudul Le Royaume de Crivijaya pada tahun 1918 M.

Coedes kemudian menetapkan bahwa, Sriwijaya adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera Selatan. Lebih lanjut, Coedes juga menetapkan bahwa, letak ibukota Sriwijaya adalah Palembang, dengan bersandar pada anggapan Groeneveldt dalam karangannya, Notes on the Malay Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Source, yang menyatakan bahwa, San-fo-ts‘I adalah Palembang yang terletak di Sumatera Selatan, yaitu tepatnya di tepi Sungai Musi atau sekitar kota Palembang sekarang. Pendapat yang lain menyebutkan bahwa pusat Sriwijaya terletak di Minanga Tamwan yakni daerah dimana terdapat pertemuan sungai kampar kanan dan sungai kampar kiri (Poerbatjaraka). Sampai sekarang terdapat lima buah loasi yang diusulkan untuk menggantikan kedudukan Palembang sebagai Ibukota Sriwijaya. Para ahli sejarah sependapat bahwa Kerajaan Sriwijaya tumbuh, berkembang dan mengalami masa kejayaannya selama berabad-abad antara abad ketujuh sampai abad ke-12.

Namun lepas dari dimana letak Sriwijaya terdapat berita dari Chao Ju-Kai, dia menceritakan tentang keadaan ibukota Sriwijaya. Letanya di tepi air, penduduknya terpencar di luar kota atau tinggal di atas rakit-rakit yang beratap alng-alang. Jika rajanya keluar, ia naik perahu dengan dilindungi payung sutra dan iringan orang-orang yang membawa tombak emas. Tentaranya sangat pandai dalam berperang, bai di darat maupun di air, keberaniannya tiada tandingannya

  1. Kehidupan Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya
  1. Ekonomi :

Letak geografis Swarna Bhumi atau Sumatera yang sangat strategis baik sekali dalam kegiatan Internasional yang mulanya antara India dengan wilayah Asia Tenggara kala itu.Menurut catatan asing, Bumi Sriwijaya menghasilkan bumi beberapa diantaranya, yaitu cengkeh, kapulaga, pala, lada, pinang, kayu gaharu, kayu cendana, kapur barus, gading, timah, emas, perak, kayu hitam, kayu sapan, rempah-rempah dan penyu. Barang-barang ini menarik para pedagang dari Barat dan Timur untuk berlomba-lomba berdagang dengan Sriwijaya. Bahwa kebesaran Sriwijaya tidak disangsikan lagi, hal itu logis karena memang cukup banyak fakta sejarah yang mendukungnya.

Barang-barang tersebut dijual atau dibarter dengan kain katu, sutera dan porselen melalui relasi dagangnya dengan Cina, India, Arab dan Madagaskar. Perdagangan dengan kerajaan lain kala itu menjadikan sriwijaya sebagai kerajaan yang Besar. Dalam melakukan perdagangan Sriwijaya juga melakukan hubungan Politik dengan negara rekanannya.

  1. Politik :

Untuk memperluas pengaruh kerajaan, cara yang dilakukan adalah melakukan perkawinan dengan kerajaan lain. Hal ini dilakukan oleh penguasa Sriwijaya Dapunta Hyang pada tahun 664 M, dengan menikahkan Sobakancana, putri kedua raja Kerajaan Tarumanegara. Linggawarman. Perkawinan ini melahirkan seorang putra yang menjadi raja Sriwijaya berikutnya: Dharma Setu. Dharma Setu kemudian memiliki putri yang bernama Dewi Tara. Putri ini kemudian ia nikahkan dengan Samaratungga, raja Kerajaan Mataram Kuno dari Dinasti Syailendra. Dari pernikahan Dewi Setu dengan Samaratungga, kemudian lahir Bala Putra Dewa yang menjadi raja di Sriwijaya dari 833 hingga 856 M. Berikut ini daftar silsilah para raja Sriwijaya:

  1. Cri Indrawarman (berita Cina, tahun 724).
  2. Rudrawikrama (berita Cina, tahun 728, 742).
  3. Wishnu (prasasti Ligor, 775).
  4. Maharaja (berita Arab, tahun 851).
  5. Balaputradewa (prasasti Nalanda, 860).
  6. Cri Udayadityawarman (berita Cina, tahun 960).
  7. Cri Udayaditya (berita Cina, tahun 962).
  8. Cri Cudamaniwarmadewa (berita Cina, tahun 1003, prasasti Leiden, 1044).
  9. Maraviyayatunggawarman (prasasti Leiden, 1044).
  10. Cri Sanggaramawijayatunggawarman (prasasti Chola, 1044).

Jika kita gambarkan di dalam bentuk suatu pohon silsilah dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini:

Saat kerajaan Funan di Indo-China runtuh, Sriwijaya memperluas daerah kekuasaannya hingga bagian barat Nusantara. Di wilayah utara, melalui kekuatan armada lautnya, Sriwijaya mampu mengusai lalu lintas perdagangan antara India dan Cina, serta menduduki semenanjung malaya. Untuk dapat mempertahankan peranannya sebagai negara berdagang, Sriwijaya lebih memerlukan kekuatan militer yang dapat melakukan gerakan ekspedisi daripada sebuah negara Agraris. Bahkan untuk kepentingan perdagangannya, Sriwijaya tidak segan-segan memuji Cina sebagai rekanannya. Ini adalah bagian dari usaha diplomatiknya untuk menjamin aga Cina tidak membuka perdagangan lain dengan negeri lain. Kekuatan armada terbesar Sriwijaya juga melakukan ekspansi wilayah hingga ke pulau jawa termasuk sampai ke Brunei atau Borneo. Hingga pada abad ke-8, Kerajaan Sriwijaya telah mampu menguasai seluruh jalur perdagangan di Asia Tenggara.

Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam sistem pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan prasasti yang ditemukan dari abad 7 dan 8 dapt ditarik kesimpulan bahwa terdapat suatu sikap yang tidak menghendaki suatu kebebasan yang terlalu besar pada penguasa daerah. Ada tiga syarat utama untuk menjadi raja Sriwijaya, yaitu :

1. Samraj, artinya berdaulat atas rakyatnya

2. Indratvam, artinya memerintah seperti Dewa Indra yang selalu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya

3. Ekachattra, artinya mampu memayungi (melindungi) seluruh rakyatnya

3. SOSIAL DAN BUDAYA

Sriwijaya yang merupakan kerajaan besar penganut agama Budha telah berkembang iklim yang kondusif untuk mengembangkan agama Budha. Raja-raja Sriwijaya selalau tampil sebagai pelindung agama Budha dan penganut yang taat.Itsing, seorang pendeta Cina pernah menetap selama 6 tahun untuk memperdalam agama Budha. Salah satu karya yang dihasilkan, yaitu Ta Tiang si-yu-ku-fa-kao-seng-chuan yang selesai ditulis pada tahun 692 M.

Peninggalan-peninggalan Kerajaan Sriwijaya banyak ditemukan di daerah Palembang, Jambi, Riau, Malaysia, dan Thailand. Ini disebabkan karena Sriwijaya merupakan kerajaan maritim selalu berpindah-pindah, tidak menetap di satu tempat dalam kurun waktu yang lama.

Prasasti dan situs yang ditemukan disekitar Palembang, yaitu Prasasti Boom Baru (abad ke7 M), Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Prasasti Talangtuo (684 M), Prasasti Telaga Batu ( abad ke-7 M), Situs Candi Angsoka, Situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa.

Peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya lainnya yang ditemukan di jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu, yaitu Candi Kotamahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar batu, Candi Astono dan Kolam Telagorajo, Situs Muarojambi.

Di Lampung, prasasti yang ditemukan, yaitu Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Bungkuk (Jabung). Di Riau, Candi Muara Takus yang berbentuk stupa Budha.

  1. KERUNTUHAN SRIWIJAYA

Kemunduran Sriwijaya sudah mulai terlihat pada abad 12. Dimana Sriwijaya hanyalah menjadi salah satu tempat yang dikunjungi oleh pedagang cina. Peranan itu mulai berkurang setelah orang-orang Cina membawa sendiri keperluan mereka ke Cina. Daerah-daerah taklukan Sriwijaya di sepanjang pesisir Selat Malaka (semisal Kampe dan Lamuri) mulai menjadi negeri yang lngsung bisa membayar upeti ke negeri Cina, sehingga dianggap setaraf dengan Sriwijaya.Pada abad ke-13 M, Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran yang luar biasa setelah adanya ekspedisi Pamalayu dari Raja Kertanegara nama Srwijaya tidak terdengar lagi beritanya.

Kerajaan Siam yang juga memiliki kepentingan dalam perdagangan memperluas wilayah kekuasaannya ke wilayah selatan. Kerajaan Siam berhasil menguasai daerah semanjung Malaka, termasuk Tanah Genting Kra. Akibat dari perluasan Kerajaan Siam tersebut, kegiatan pelayaran perdagangan Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang. Sriwijaya menjadi kerajaan kecil dan lemah yang wilayahnya terbatas di daerah Palembang, Kemudian muncul kerajaan Melayu yang menggantikan Sriwijaya.

Kerajaan Melayu Jambi, yang dahulunya berada di bawah naungan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya taklukannya. Kekuatan kerajaan Melayu Jambi berlangsung hingga dua abad sebelum akhirnya melemah dan takluk di bawah MajapahitDalam buku SNI II disebutkan bahwa Melayu tidak pernah tumbuh menjadi kekuasaan tunggal seperti Sriwijaya. Mungkin hal itu terjadi karena munculnya kerajaan –kerajaan kecil bekas taklukan Sriwijaya.



KERAJAAN MELAYU JAMBI

A . Sumber Sejarah

Sumber Berita Cinna

Berita tentang Kerajaan Malayu antara lain diketahui dari kronik Cina berjudul T’ang-hui-yao karya Wang P’u. Disebutkan bahwa ada sebuah kerajaan bernama Mo-lo-yeu yang mengirim duta besar ke Cina pada tahun 644 atau 645. Pengiriman duta ini hanya berjalan sekali dan sesudah itu tidak terdengar lagi kabarnya.

Pendeta I Tsing dalam perjalanannya pada tahun 671–685 menuju India juga sempat singgah di pelabuhan Mo-lo-yeu. Saat ia berangkat, Mo-lo-yeu masih berupa negeri merdeka, sedangkan ketika kembali ke Cina, Mo-lo-yeu telah menjadi jajahan Shih-li-fo-shih (ejaan Cina untuk Sriwijaya).

Menurut catatan I Tsing, negeri-negeri di Pulau Sumatra pada umumnya menganut agama Buddha aliran Hinayana, kecuali Mo-lo-yeu. Tidak disebutkan dengan jelas agama apa yang dianut oleh Kerajaan Malayu.

B. Lokasi

Lokasi Malayu Tua

Ada beberapa pendapat yang dikeukakan tentang keberadaaan atau lokasi kerajaan melayu antara lain adalah sebagai berikut:

Dr. Rouffaer berpendapat bahwa ibu kota Kerajaan Malayu menjadi satu dengan pelabuhan Malayu, dan sama-sama terletak di Kota Jambi. Sedangkan menurut Ir. Moens, pelabuhan Malayu terletak di Kota Jambi, namun istananya terletak di Palembang. Sementara itu, Prof. George Coedes lebih yakin bahwa Palembang adalah ibu kota Kerajaan Sriwijaya, bukan ibu kota Malayu.

Prof. Slamet Muljana berpendapat lain. Istilah Malayu berasal dari kata Malaya yang dalam bahasa Sansekerta bermakna “bukit”. Nama sebuah kerajaan biasanya merujuk pada nama ibu kotanya. Oleh karena itu, ia tidak setuju apabila istana Malayu terletak di Kota Jambi, karena daerah itu merupakan dataran rendah. Menurutnya, pelabuhan Malayu memang terletak di Kota Jambi, tetapi istananya terletak di pedalaman yang tanahnya agak tinggi.

Prasasti Tanyore menyebutkan bahwa ibu kota Kerajaan Malayu dilindungi oleh benteng-benteng, dan terletak di atas bukit. Slamet Muljana berpendapat bahwa istana Malayu terletak di Minanga Tamwa sebagaimana yang tertulis dalam prasasti Kedukan Bukit. Menurutnya, Minanga Tamwa adalah nama kuno dari Muara Tebo (atau Kabupaten Tebo di Provinsi Jambi).

C. Politik , Sosial dan Budaya

1. Silsilah

Di masa Kerajaan Dharmasraya, raja yang dikenal hanyalah Shri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa (1270-1297). Sementara raja-raja yang lain, belum didapat data yang lengkap. Di masa Kerajaan Swarnabhumi, rajanya yang paling terkenal adalah Aditywarman. Namun, ketika bergabung dengan Minangkabau, maka silsilah raja yang ada merupakan silsilah raja-raja Minangkabau.

2. Periode Pemerintahan

Agak rumit memaparkan bagaimana periode pemerintahan berlangsung di Jambi, jika pemerintahan tersebut diandaikan sebuah kerajaan merdeka yang bebas dari pengaruh kekuasaan lain. Berdasarkan sedikit data sejarah yang tersedia, tampaknya Jambi menikmati masa bebas dari pengaruh kerajaan lain hanya di masa Kerajaan Melayu Kuno. Selanjutnya, ketika Sriwijaya berdiri, Jambi menjadi daerah taklukan Sriwijaya, bahkan, menurut beberapa sumber yang, tentu saja masih diperdebatkan, Jambi pernah menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya. Ketika Sriwijaya runtuh dan muncul kekuatan Singosari di Jawa, Jambi menjadi daerah taklukan Singosari. Ketika Singosari runtuh dan muncul kemudian Majapahit, Jambi menjadi wilayah taklukan Majapahit.

Dalam perkembangan selanjutnya, Jambi menjadi pusat Kerajaan Swarnabhumi yang didirikan Aditywarman. Ketika pusat kerajaan Adityawarman berpindah ke Pagaruyung, Jambi menjadi bagian dari Kerajaan Minangkabau di Pagaruyung. Ketika Malaka muncul sebagai sebuah kekuatan baru di Selat Malaka, Jambi menjadi bagian dari wilayah Malaka. Malaka runtuh, kemudian muncul Johor. Lagi-lagi, Jambi menjadi bagian dari Kerajaan Johor. Demikianlah, Jambi telah menjadi target ekspansi setiap kerajaan besar yang berdiri di Nusantara ini.

3. Wilayah Kekuasaan

Wilayah Kerajaan Jambi meliputi daerah sepanjang aliran Sungai Batang Hari yang sekarang menjadi wilayah Propinsi Jambi, yang berbatasan dengan wilayah Sumatera Barat, Riau dan Sumatera Selatan.

4. Struktur Pemerintahan

Di masa Jambi masih menjadi kerajaan merdeka, kerajaan dipimpin oleh seorang raja. Namun, belum ada kejelasan, apa status pemimpin daerah-daerah di Jambi, selama negeri ini menjadi bagian dari wilayah kerajaan lain.

5. Kehidupan Sosial Budaya

Beberapa benda arkeologis yang ditemukan di daerah Jambi menunjukkan bahwa, di daerah ini telah berlangsung suatu aktifitas ekonomi yang berpusat di daerah Sungai Batang Hari. Temuan benda-benda keramik juga membuktikan bahwa, di daerah ini, penduduknya telah hidup dengan tingkat budaya yang tinggi. Temuan arca-arca Budha dan candi juga menunjukkan bahwa, orang-orang Jambi merupakan masyarakat yang religius. Ini hanyalah sedikit gambaran mengenai kehidupan di Jambi. Bagaimana sisi sosial budaya masyarakat secara keseluruhan? Sangat sulit untuk menggambarkan secara detil, bagaimana kehidupan sosial budaya ini berlangsung, mengingat data arkeologis yang sangat minim

KESIMPULAN

Dari keterangan yang telah kami jelaskan di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa :

  1. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan besar yang pernah ada di Indonesia. Meskipun sampai sekarang masih terjadi perdebatan tentang dimana letak pasti kerajaan Sriwijaya.
  2. Kekuatan Armada laut Sriwijaya adalah kekuatan yang sangat disegani pada masanya.
  3. Setelah keruntuhan Sriwijaya, muncul Kerajaan Melayu di daerah Sumatera (sekitar Jambi). Namun Melayu bukan menjadi kerajaan tunggal seperti Sriwijaya di Sumatera.
  4. Sebagai bangsa yang besar kita masih perlu mengungkap rahasia terpendam Kerajaan Sriwijaya yang belum terungkap
  5. Bahwa kerajaan melayu masuh memiliki banyak informasi yang belum kita ketahui untuk itu kita harus mencarai sumber –sumber –sumber untuk mengetahui kerajaan melayu yang masih banyak belum terungkap.

SUMBER MAKALAH /D aftar Pustaka : 1. SNI 4

2. SNI 2

3. www.sejarahmelayu.com

4. www.kompas.com

5. www.depdagri.com

6. www.kerajaandharmasraya.htm

1 komentar: